Travel Batik

Senin, 24 Oktober 2016

Inovasi Warna Alam untuk Batik Indonesia


Secara etimologi, kata batik berasal dari bahasa Jawa, amba yang berarti lebar, luas, kain; dan “titik” atau matik (kata kerja membuat titik) yang kemudian berkembang menjadi istilah batik (Wulandari, 2011: 4). Pada masa lampau, batik banyak dipakai oleh orang Indonesia di daerah Jawa. Itu pun terbatas pada golongan ningrat keraton dengan aturan yang sangat ketat. Artinya, tidak sembarangan orang boleh mengenakan batik, terutama pada motif-motif tertentu yang ditetapkan sebagai motif larangan bagi khalayak luas. Namun pada perkembangannya, batik bebas dipakai baik untuk pakaian formal maupun non formal.  
Perkembangan batik di pulau Jawa sangat pesat terutama di daerah Solo dan Yogyakarta. Batik menjadi warisan budaya seni tradisional turun-temurun dari jaman dahulu sampai masa sekarang. Dahulu wanita -wanita Jawa menjadikan ketrampilan membuat batik tulis sebagai mata pencaharian utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan kebutuhan ekonomi berbangsa dan bernegara dalam bermasyarakat. Sehingga pada jaman dahulu membuat batik tulis merupakan pekerjaan yang sangat istimewa bagi kaum wanita, sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memberikan kesempatan kepada kaum pria mencoba menekuni bidang batik dengan teknik cap dan dapat diterapkan oleh banyak industri batik sampai saat ini.                                              
Sa’du (2013: 14) menegaskan, “Tidak mengherankan jika batik mengalami perkembangan yang pesat, baik menyangkut pola hiasan, warna dan coraknya. Motif batik tradisional yang didominasi oleh lukisan binatang dan tanaman sempat bergeser pada motif abstrak seperti awan, relief candi, dan wayang. Hanya saja semua motif batik yang kini bermunculan tetap bertumpu pada pakem tradisional.” Pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO mengukuhkan batik Indonesia sebagai global cultural heritage (warisan budaya dunia) yang berlangsung di Perancis. Harapan dan tujuan pemerintah dan para pihak yang terkait dengan dikukuhkannya batik ini adalah memperkuat legitimasi Indonesia dalam pengembangan batik sebagai salah satu warisan budaya. Sehingga pemerintah Indonesia menetapkan pada tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Sejak itu banyak munculnya Industri baru yang menekuni bidang batik, sehingga sangat dibutuhkan suatu badan usaha yang menyediakan perlengkapan batik dan teknologinya sesuai dengan perkmbangan zaman. Di Yogyakarta dapat kita jumpai perlengkapan alat membatik yaitu Toko Astoetik yang menyediakan semua perlengkapan batik termasuk kompor dan canting listrik modern yang dapat mempermudah dalam membuat batik. Pemesanan produk bisa online yaitu bisa mengunjungi www.astoetik.com bisa juga langsung mengunjungi show room nya di Jeblog RT.02 Kasihan Bantul Yogyakarta. Jika ingin berbelanja batik sekaligus wisata di Yogyakarta bisa meninap di hotel yang sangat nyaman dari segi fasilitas maupun pelayanan, bisa memilih kamar berbagai type sesuai keinginan di www.therichjogjahotel.com supaya liburanmu menyenangkan dan bisa direkomendasikan untuk keluarga, saudara dan teman yang ingin berkunjung ke Yogyakarta.

Proses pembuatan batik sangat beranekaram teknik pembuatan dan pewarnaannya. Namun saat ini Pewarnaan Alam menjadi suatu teknik yang banyak diminati oleh pengrajin ataupun industri batik. Kelebihan batik yang diwarna menggunakan pewarna alam akan menghasilkan batik yang elegan karena warnanya yang dop dan sentuhannya dingin dan lembut. Berikut adalah cara pembuatan batik dengan inovasi pewaranaan alam pada ekstraksi kayu tingi dan kulit bawang merah:                       
1.    Penciptaan Motif
Pembuatan motif pada karya ini bersifat sederhana dan tidak rumit. Terbentuknya motif pada karya ini merupakan bentuk motif yang dihasilkan dari karakter dan efek sabut kelapa yang dikibaskan. Pembuatan motif dilakukan dengan cara mengembangkan dan mengubah dari sumber ide dan referensi motif yang kemudian dibuat sket-sket gambar motif. Adapun motif yang terkandung dalam batik ini adalah motif utama, motif pendukung, dan motif isen.

2.    Penciptaan Pola
Pada tahap pembuatan pola batik yang dilakukan adalah menyusun antara motif utama, motif pendukung dan motif isen menjadi sebuah pola batik yang kemudian dijiplak ke kain untuk dibatik.
Pada pola batik kibasan sabut kelapa ini digambarkan dengan simbol motif perkiraan yang nantinya akan dibatik menggunakan teknik pengibasan kuas sabut kelapa yaitu sabut Mekar dan sabut Gandeng. Sehingga gambar pola tidak serumit seperti batik tulis. Pola pada batik kibasan sabut kelapa ini menjadi acuan dalam mencanting menggunakan kuas sabut kelapa. Kombinasi batik tulis pada batik ini dilakukan pada pembatikan ke dua yaitu pemberian isen-isen pada motif utama batik yang ditimbulkan oleh kibasan kuas sabut kelapa.

3.    Memola
Memola adalah memindahkan pola ke kain menggunakan pensil. Namun sebelum kain di pola, kain harus melalui tahap mordanting, yakni:
Mordanting adalah proses perebusan kain dengan garam logam menggunakan tawas dan soda abu. Mordanting pada batik warna alam bertujuan untuk mempermudah serat kain menyerap pewarna dan membuat warna menjadi lebih rata. Adapun resep mordan untuk 500 gram kain katun adalah sebagai berikut:
a.        Merendam kain dalam larutan 2 gram/ liter deterjen selama semalam.
b.        Kain dicuci dengan air bersih dan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan.
c.         Merebus kain ke dalam 17 liter air yang mengandung 100 gram tawas dan 30 gram soda abu selama 1 jam sambil dibolak- balik kainnya.
d.        Setelah perebusan matikan api dan biarkan kain tetap dalam larutan tersebut selama semalam.
e.        Pagi harinya kain dicuci bersih dan di angin-anginkan sampai kering kemudian kain siap untuk dibatik.

Setelah mordanting selesai, kain dipola sesuai dengan pola yang dikehendaki menggunakan pensil dan alas meja.

4.    Pencantingan

Mencanting dengan Canting Cecek dan Klowong
Pada teknik mencanting ini menggunakan canting cecek ataupun klowong yang bertujuan untuk menghasilkan karya batik kibasan sabut kelapa tanpa meninggalkan ciri khas batik yaitu penggunaan canting cecek dan klowong dalam membuat batik sesuai dengan pola.




5.    Pewarnaan
Setelah kain melalui tahap pencantingan dengan malam (lilin), selanjutnya adalah tahap pewarnaan dengan Zat Pewarna Alam (ZPA). Pewarna alam yang digunakan pada penciptaan batik ini adalah kayu tingi, buah jalawe dan kulit bawang merah. Tahapan pewarnaan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a.    Pembuatan Ekstrasi Warna Alam
Pada tahap pewarnaan ini, yang harus disiapkan adalah membuat ekstrasi warna alam dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1)   Menimbang bahan warna alam menggunakan timbangan.
2)   Setiap 1 kg kayu tingi dan kulit bawang merah direbus dengan 10 liter air.
3)   Rebus dengan api panas sampai rebusa menjadi setengah (5 liter).
4)   Biarkan larutan warna menjadi dingin, setelah larutan benar-benar dingin baru dapat digunakan untuk mewarna kain. Untuk mendapatkan warna yang lebih bagus, diinapkan minimal satu malam larutan warna tersebut agar lebih pekat saat digunakan.

Rebusan Kulit Bawang merah
  1. Pencelupan Warna
Pada tahap pencelupan kain ke bak yang berisi pewarna ini dilakukan secara merata dan bolak- balik agar menghasilkan warna yang merata. Selesai pencelupan kain ditiriskan dengan cara di angin-anginkan sampai tiris. Setelah tiris kain dicelupkan kembali ke pewarna berulang kali sampai mendapatkan warna sesuai dengan keinginan. Pencelupan warna alam pada tahap ini dilakukan berulang-ulang sampai mendapatkan warna yang diinginkan kurang lebih selama 3 hari. Setelah mendapatkan warna yang sesuai, kain didiamkan selama semalam sebelum memasuki tahap penguncian warna.


  1. Penguncian Warna
Setelah kain didiamkan semalam dengan tujuan warna dapat melekat pada kain, kain siap memasuki proses penguncian warna. Penguncian warna (fiksasi) adalah memperkuat warna dan zat pewarna alam sesuai dengan jenis logam yang mengikatnya.
Adapun jenis fiksasi ada yang digunakan dalam pewarnaan alam adalah sebagai beriku :
1)   Tawas (Kal (SO4) 2) dosis 70 gram /liter.
Pada proses fiksasi dengan tawas akan menghasilkan warna sesuai dengan warna aslinya.
2)   Kapur
Pada proses fiksasi menggunakan kapur akan menghasilkan warna lebih tua dari aslinya.
3)   Tunjung (Fe SO4) dosis 20 gram/ liter.
Pada proses fiksasi menggunakan tunjung akan memberikan warna kearah gelap atau tua.

Setelah menentukan jenis fiksasi yang dipilih untuk mengunci pewarna, tahapan selanjutnya adalah tahap pencelupan kain ke bak pewarna. Adapun tahapan pencelupan fiksasi adalah sebagai berikut:
1)      Melipat wiru kain yang sudah selesai dicelupkan pewarna dan sudah diinapkan satu malam dalam kondisi kering.
2)      Mencelupkan kain pada larutan fiksasi yang diinginkan dengan cara di bolak-balikkan agar hasil warna merata. Pencelupan dilakukan sesuai dengan kebutuhan intensitas warna yang dikehendaki.
3)      Cuci bersih kain menggunakan air netral secara perlahan.
4)      Kemudian kain diangin-anginkan sampai kering dan kain siap diproses kembali.
6.    Pelorodan
Pelorodan adalah proses perebusan untuk menghilangkan malam (lilin) yang menempel pada batik. Proses ini diperlukan adanya zat pembantu agar lilin yang menempel pada kain mudah lepas pada saat direbus. Zat pembantu tersebut adalah soda abu, waterglass dan kanji. Peralatan yang digunakan untuk melorod adalah sebagai berikut:
a.    Panci besar/ Jeding
Jeding adalah wadah yang digunakan untuk merebus air, soda abu dan kanji yang diletakkan pada  atas kompor dalam proses pelorodan.
b.    Serok
Serok adalah alat yang digunakan untuk mengambil lilin cair ketika proses pelorodan berlangsung.
c.    Tongkat/ Kayu
Tongkat digunakan untuk mempermudah dalam membolak-balikkan kain ketika proses pelorodan berlangsung.

Adapun batik hasil dari ekstraksi pewarnaan alam dari kayu tingi dengan kulit bawang merah adalah sebagai berikut:
Karya Pribadi



Minggu, 16 Oktober 2016

Batik Pitakonan ? Teknik Kibasan Variasi Teknik Tulis


Gambar. Batik Pitakonan
(Karya Pribadi: Sumarni Alisha A. 2016)


Nama Karya: “Batik Pitakonan”
Motif: Karya terdiri dari gabungan motif takon, telu, kibas dan ukel
Ukuran: 110 cm x 250 cm
Media: Primisima Kereta Kencana
Teknik pewarnaan:
Celup warna alam buah jalawe, pengunci warna tunjung, menggranit, mencanting, tutup, celup warna alam kayu tingi, pengunci warna gamping dan injet.